Part 9 | Filsafat Ilmu | Perpsektif Mimpi dalam Psikologi Islam
- Definisi Mimpi
Pengertian mimpi secara terminologi banyak dikemukakan oleh banyak ahli dan pakar ilmu agama yang masing-masing definisi memiliki persamaan dan perbedaan. Sejumlahpengertian mimpi dikemukakan para ahli. Al-Ushaimy (2004) mengartikan mimpi adalah serangkaian keyakinan dan pemandangan yang ditransfer Allah ke dalam hati hamba-Nya lewat malaikat atau syaitan. Persis sama dengan kata hati yang melintas di dalam pikiran dan hati seseorang ketika tidak tidur. Kadang datang dalam bentuk rangkaian yang utuh, dan terkadang datang dengan cerita terpisah-pisah.
Didalam psikologi modern, ada beberapa psikologi yang fokus mengkaji mimpi, salah satunya Sigmund Freud dari madzab psikodinamika. Menurut Sigmund Freud, stimulus dan sumber dari kemunculan sebuah mimpi ada 4, yaitu:
(1) External sensory stimuli,
(2) Internal (subjective) sensory excitations,
(3) Internal organic somatic stimuli, dan
(4) Psychical source of stimulation.
Kalau disederhanakan, stimulus dan sumber tersebut bisa muncul dari dalam individu karena dorongan, harapan dan keinginan yang sifatnya eksternal yang biasanya berasal dari pengalaman obyektif atau bisa melalui rangsangan badan maupun kondisi fisik.
Namun berbeda dengan Freud, islam menjadikan mimpi menjadi hal bermakna dan menarik nilai seseorang pada keimanan dan implikasi nyata dalam kehidupan karena mimpi tidak terjadi dengan sendirinya dan intinya mimpi itu berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Freud.Nabi menggambarkan dalam hadisnya: “Ketika kiamat telah mendekat, mimpi seorang muslim hampir tidak ada dustanya. Mimpi orang muslim adalah termasuk satu dari empat puluh enam bagian kenabian”
Jelasnya, mimpi dalam psikologi Islam adalah sebuah hal yang diakui keberadaannya karena terdapat dalam kedua sumber ajaran Islam yang tentunya memiliki fungsi dan tujuan, bahkan mimpi adalah bagian dari kenabian yang merupakan wahyu yang pertama seperti yang dikatakan oleh Ummul mukminin`Aisyah ra. Dari Aisyah beliau berkata: “Awal permulaan wahyu adalah penglihatan yang dalam tidur yang benar, Ia tidak melihat dalam mimpinya kecuali sebagaimana datang fajar kemudian Ia senang menyepi di gua Hira beliau melakukan tahannus untuk beberapa malam sebelum kembali kepada isterinya
- Macam-Macam Mimpi
Mimpi yang benar ini terbagi menjadi tiga, yaitu
(a) Mimpi yang transparan, jelas, nyata dan kata-katanya menerangkan kenyataan. Karenanya, isi mimpi tidak memerlukan penjelasan dan penta’wilan.
(B) Mimpi yang tersembunyi, tersamar dan mengandung hikmah serta pemberitahuan. Jenis mimpi ini memerlukan penafsiran.
(C) Mimpi yang baik. Mimpi ini menginformasikan kabar gembira dari Allah, misalnya memimpikan kebaikan, seperti bermimpi melihat Nabi saw, sahabat Nabi dan orang-orang saleh.
- Mimpi dalam Hadits
Dalam hadis Abu Hurairah yang dihimpun oleh Muslim disebutkan pula tiga jenis ru’ya (mimpi), yaitu (1) mimpi baik yang merupakan khabar gembira dari Allah.
(2) mimpi yang menyusahkan yang datang dari syaitan dan
(3) mimpi yang disebabkan oleh perhatian manusia terhadap sesuatu atau hal-hal yang telah berada di alam bawah sadarnya. Biasanya yang ketiga ini masih standar dan jarang dikaji ulama, karena bersifat keduniawian semata, walaupun ulama seperti Azzahrani menguraikannya dengan panjang lebar. Al Qur’an, sebagai kitab paripurna, mengisahkan banyak sekali ru’ya yang menimpa para nabi. Misalnya tentang ru’ya nabi Ibrahim AS.
- Mimpi dalam Al-Quran
Menurut al-Uraini (2013), mimpi memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Hal ini dibuktikan lewat perhatian al-Qur’an dan hadis terhadap mimpi. Dalam al-Qur’an dikisahkan tentang keinginan Ibrahim as. untuk menyembelih putranya yang didasarkan atas mimpi yang ia alami, sedangkan sang putra Ismail as. mematuhinya sebagaimana dijelaskan dalam (QS. Ash-Shaffat:102-10). Dalam surat al-Fath juga ditemukan kisah mimpi Nabi Muhammad saw. tentang masuknya beliau ke Makkah bersama para sahabatnya dengan aman, dan ternyata mimpi itu terwujud dalam tahun pembukaan kota Makah) sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Fath ayat 27.
- Hubungan Mimpi dengan Gangguan Mental
Menurut Sigmund Freud, hubungan antara mimpi dan gangguan mental dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori. Pertama, mimpi dianggap sebagai representasi, petunjuk, atau sisa dari kondisi kejiwaan yang tidak normal, sehingga memiliki kaitan klinis dengan gangguan mental. Kedua, kondisi mimpi mengalami perubahan dan menjadi fokus utama dalam pembahasan berbagai penyakit kejiwaan. Ketiga, mimpi memiliki keterkaitan yang mendalam dengan kegilaan, ditunjukkan melalui analogi yang menegaskan kedekatan esensial antara keduanya.
Freud menyatakan bahwa mimpi merupakan salah satu gejala psikologis yang mencerminkan aktivitas paling mendasar dalam jiwa manusia. Melalui mimpi, seseorang berusaha memuaskan keinginannya dan meredakan ketegangan dengan menciptakan bayangan atau citra dari keinginan yang ingin dicapai.
Mimpi dan perilaku sangat berkaitan satu sama lain. Mimpi bisa mempengaruhi perilaku juga sebaliknya perilaku bisa mempengaruhi mimpi. Tidur dan mimpi dalam keadaan positif dan indah dapat membuat mood seseorang dalam keadaan positif. Begitu juga ketika sesorang memdapatkan mimpi yang buruk dapat membuat perilaku seseorang negatif dan merasa ketakutan.Sama dengan perilaku, jika perilaku kita baik dan positif akan mnghasilkan mimpi yang positif begitu juga sebaliknya jika perilaku negatif maka akan menghasilakn mimpi yang negatif dan buruk.
- Kedudukan Islam dalam Psikologi Islam
Dari beberapa pendapat psikolog, dapat dipahami bahwa mimpi merupakan produk psikis manusia. Tak satupun di antara mereka berteori bahwa sumber mimpi berasal dari dunia eksternal, seperti bisikan atau isyarat di luar mimpi.
Lain halnya dalam psikologi Islam, menurut Al-Farâbî, menyatakan bahwa pada saat manusia tidur, daya imajinasi dapat mengakses sketsa-sketsa inderawi yang disimpan. Selanjutnya daya imajinasi menyusun dan memisahkan sketsa-sketsa tersebut dan kemudian melakukan imitasi dengan menyusun sketsa inderawi yang tersimpan sesuai dengan pengaruh yang manusia alami pada saat tidur. Terkadang daya imajinasi dapat menerima hal-hal yang rasional karena menirunya dan hal-hal inderawi yang menjadi strukturnya, dan kadang-kadang menerima hal-hal inderawi seperti yang ia khayalkan atau dengan menirunya melalui hal-hal inderawi lainnya (al-Farabi, t.t.).
Mimpi dalam psikologi Islam adalah sebuah hal yang diakui keberadaannya karena terdapat dalam kedua sumber ajaran Islam yang tentunya memiliki fungsi dan tujuan bahkan mimpi adalah bagian dari kenabian.
- Kesimpulan
Dalam psikologi, tidur dan mimpi sering dikaitkan dengan kesadaran (consciousness). Awalnya, kesadaran disamakan dengan pikiran, namun kini diartikan sebagai tingkat kewaspadaan seseorang terhadap rangsangan internal dan eksternal, termasuk lingkungan, tubuh, ingatan, dan pikiran. Mimpi memiliki hubungan erat dengan perilaku, meski belum pasti apakah mimpi memengaruhi perilaku atau sebaliknya. Dalam psikologi Islam, mimpi tidak hanya berasal dari bawah sadar, melainkan merupakan pengalaman ruh selama tidur. Ruh dipercaya keluar dari tubuh, menjelajah alam arwah yang bebas dari batas ruang, waktu, dan nafsu. Di sana, ruh membantu akal menyelesaikan masalah yang sulit diselesaikan saat terjaga. Islam menempatkan mimpi pada posisi penting, terbukti dari kisah-kisah dalam Al-Qur'an, seperti mimpi Nabi Ibrahim a.s. tentang menyembelih Ismail a.s. (QS. Ash-Shaffat: 102–103), dan mimpi Nabi Muhammad saw. tentang memasuki Makkah yang kemudian menjadi kenyataan (QS. Al-Fath).
Komentar
Posting Komentar