Part 4 | Filsafat Ilmu | Memahami Realitas keilmuan Masa Kini
Nama: Irfa Nidaaur Rahma
NIM : 1860304241026
Kelas: KPI 2E
Memahami Realitas keilmuan Masa Kini
Siapakah orang berilmu?
Mungkin pernyataan ini mudah untuk dijawab dan banya orang bisa saja menjawab dengan jawaban orang yang tahu, orang yang pintar, orang yang menguasai segala hal dan sebagainya. Namun pada dasarnya ilmu merupakan ciri manusia.
Kehidupan manusia bisa ditentukan berdasarkan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan dimasa kini definisi ilmu pengetahuan banyak dianggap manusia lebih menekankan pada ukuran kebenaran, hasil materia, dan teknologi sebagai hasil nyata.
Ilmu pengetahuan merupakan hasil menyingkap realitas dengan sistem dan metode secara tepat merumuskan baik dari objek material maupun formal. Auguste Comte mengajukan e tahap pembebasan ilmu:
1. Ilmu pengetahuan melepaskan diri dari lingkungan teologik yang bersifat mistik.
2. Ilmu pengetahuan melepaskan diri dari lingkungan metafisik yang bersifat abstrak.
3. Ilmu pengetahuan menentukan otonominya dalam lingkungan positivistik.
Kebenaran hanya dapat dipahami dalam batas perhitungan kuantitatif dan matematik. Apa yang disebut benar adalah apa yang nampak dan teukur. Manusia mengembangkan hierarki keilmuannya berdasarkan mindset ini. Pintar tidaknya manusi terutama pelajar juga diukur berdasarkan penguasaan atas kehierarkian pengetahuan.
Pada zaman sekarang manusia cenderung diatur oleh alam kedua, lingkungan dalam arti tertentu yang bersifat artifisial. Sebagai hasil teknologi. Teknologi saat ini tidak lagi sekedar tiruan alam pertama, tetapi sudah menggantikan fungsi dan peran utama manusia. Ilmu pengetahuan yang positif dapat meningkatkan keberhasilan pengembangan teknologi, namun semakin maju teknologi juga dihadapkan pada ke tidak berdayaam dan ketidak berhasilan ilmu pengetahuan humanistik untuk mengatasi masalah manusia seperti kemikinan, kebodohan dan kelaparan. Hal ini merupakan dampak buruk pada ilmu pengetahuan humanistik.
Manusia sekarang tidak bisa terlepas dan hidup dari teknologi, keberhasilan seseorang diukur dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi berfungsi selaku "sang penembus dan sang pembebas" ia menebus dan membebaskan manusia dari kebodohan, keterbelakangan dan kemiskinan.
Jika teknologi tidak terkontrol akan menghadirkan kerumitan hidup salah satunya menyebabkan keterasingan dan kepekaan kepada manusia lain. Diperlukan pemikiran yang sungguh-sungguh untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Filsafat ilmu pengetahuan bertugas mengantarkan manusia untuk menemukan kebenaran yang utuh. Ilmu filsafat tidak mengembangkan rasionalisme dan saintisme ajaran materialnya tidak dapat mengetahui tingkat, kebenaran diluar matra ruang dan duniawi.
Namun manusia telah menyadari apa yang dipelajari dan diteliti melalui ilmu pengetahuan dan teknologi hanya merupakan satu aspek dari realitas hidup yang sesungguhnya yang jauh lebih kaya. Ada perkembangan barus dari para ahli ilmu pengetahuan eksakta yang cenderung menjauhkan diri dari radikalisme dsn materialisme, ada keterbukaan terhadap masalah prinsip yang melampaui batas-batas metodologis dari ilmu pengetahuan sendiri.
Struktur ilmu pengetahuan menempatkan ilmu-ilmu positif lebih dominan dari ilmu lainnya, agama justru terletak dijenjang terendah. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk merekonstruksi ilmu pengetahuan manusia. Agama harus di posisikan kembali sebagai paradigma ilmu pengetahuan karena justru agamalah yang mengantarkan kita kepada kebenaran illahi.
Kesimpulan
Orang berilmu tidak hanya pintar, tetapi juga memahami hakikat ilmu dalam kehidupan. Ilmu dan teknologi menjadi tolok ukur keberhasilan, namun kemajuan yang tak terkendali dapat menimbulkan dampak negatif. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara ilmu, teknologi, dan nilai humanistik.
Filsafat ilmu membantu menemukan kebenaran yang lebih luas, sementara dominasi ilmu positif membuat agama terpinggirkan. Maka, rekonstruksi ilmu diperlukan dengan menempatkan agama sebagai paradigma utama menuju kebenaran ilahi.
Hikmah
Sebagai orang yang berilmu dan melek teknologi, harus memanfaatkan ketersediaan itu untuk mendapatkan kebenaran yang mendalam, namun tidak boleh mengesampingkan ilmu agama, karena ilmu agama lah yang justru mengantarkan kita kepada kebenaran illahi.
Komentar
Posting Komentar